nurhanisyam

MARI BERJUANG… SALAM INDONESIA RAYA

  • About
  • Acara
  • Kecamatan Cadasari
  • Kecamatan Kadu Hejo
  • Kecamatan Karangtanjung
  • Kecamatan Kroncong
  • Kecamatan Maja Sari
  • Kecamatan Pandeglang

MERETAS JALAN KEBAIKAN

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

Meretas Jalan Kebaikan

Kebaikan adalah apa saja yang dipandang baik oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Keburukan adalah apa saja yang dianggap buruk oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan kata lain, bagi seorang Muslim, standar baik-buruk adalah syariah Islam. Karena itu, dalam Islam: iman itu baik, kufur itu buruk; taat itu baik, maksiat itu buruk; adil itu baik, fasik/zalim itu buruk; beramal shalih itu baik, beramal salah itu buruk; pemurah itu baik, kikir itu buruk; pemaaf itu baik, pendendam itu buruk; pejuang syariah dan Khilafah itu baik, penentangnya itu buruk; jihad itu baik, terorisme itu buruk. Demikian seterusnya. Tentu jika semua itu tolok-ukurnya adalah syariah Islam.

Dalam Islam, baik pelaku kebaikan ataupun keburukan tentu akan mendapatkan konsekuensi pahala atau dosa. Pelaku kebaikan akan mendapatkan pahala dan surga. Pelaku keburukan akan mendapatkan dosa dan azab neraka. Namun sesungguhnya konsekuensi bagi keduanya bisa lebih dari itu, yakni saat masing-masing menjadi ‘teladan’ atau ‘ikutan’ bagi orang lain. Seorang pelaku kebaikan akan mendapatkan dua pahala: pahala atas perbuatan baik yang ia lakukan dan pahala dari orang yang meneladani atau mengikuti jejak kebaikannya. Demikian pula pelaku keburukan. Ia pun akan mendapatkan dua dosa: dosa atas perbuatan buruk yang ia lakukan dan dosa dari orang yang ‘meneladani’ atau mengikuti jejak keburukannya. Itulah yang ditegaskan oleh Baginda Rasulullah SAW dalam sabda beliau, sebagaimana dituturkan oleh Jarir bin Abdillah (yang artinya), “Siapa saja yang meretas jalan kebaikan (sunnat[an] hasanat[an]) di dalam Islam, baginya pahala atas perbuatan baiknya itu dan pahala dari orang-orang yang mengikuti jejak kebaikannya itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang meretas jalan keburukan (sunnat[an] sayyi’at[an]) di dalam Islam, baginya dosa atas perbuatan buruknya itu dan dosa dari orang-orang yang mengikuti jejak keburukannya itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).

Maknanya, siapapun yang mempropagandakan kebaikan, baik dengan ucapan atau tindakan, termasuk dengan dukungan, lalu kebaikan  itu dilakukan oleh orang lain maka bagi dirinya dua pahala, sebagaimana dijelaskan di atas. Demikian pula hal sebaliknya (baca: dosa) bagi orang yang mempropagandakan keburukan, baik dengan ucapan atau tindakan, termasuk dengan dukungan (Lihat: Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, I/330).

Hadits Nabi SAW yang lain, sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, juga mengungkapkan maksud serupa, yakni saat beliau bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan, bagi dirinya pahala yang serupa dengan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikan itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Siapa saja yang menunjukkan jalan kesesatan, bagi dirinya dosa yang serupa dengan dosa orang-orang yang mengikuti kesesatan itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR Muslim).

Khusus terkait dengan kebaikan, Baginda Rasulullah juga bersabda (yang artinya), “Demi Allah, hidayah Allah yang diberikan kepada seseorang melalui dirimu adalah lebih baik bagi kamu daripada seekor unta merah.” (Mutaffaq ‘alaih).

Unta merah adalah harta yang paling dibanggakan bangsa Arab saat itu; tidak ada yang lebih berharga dari itu (Muhammad ‘Allan, I/336).

Baginda Rasulullah SAW juga bersabda (yang artinya), “Siapa saja yang menunjukki orang lain pada kebaikan, bagi dirinya pahala yang serupa dengan orang yang melakukan kebaikan itu.” (HR Muslim).

Oleh sebagian ulama, hadits-hadits ini dijadikan dalil atas keutamaan berdakwah atau menyampaikan hidayah Islam kepada manusia. Hadits ini juga menunjukkan arti pentingnya mengamalkan atau menyebarluaskan ilmu. Bahkan ilmu yang diamalkan atau disebarluaskan merupakan salah satu amalan yang pahalanya akan terus mengalir kepada pelakunya meski ia telah wafat. Hal ini sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW (yang artinya), “Saat anak Adam meninggal, terputus segala (pahala) amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang selalu mendoakan dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Walhasil, marilah kita berlomba-lomba meretas jalan kebaikan dengan dua cara. Pertama: dengan menyebarluaskan ilmu-ilmu Islam yang kita miliki meski ilmu yang kita miliki baru sedikit. Kedua: dengan berdakwah menyebarluaskan hidayah Islam kepada manusia. Dakwah adalah aktivitas mulia karena merupakan aktivitas para nabi dan rasul Allah SWT. Hanya dengan dakwahlah umat manusia bisa tertunjukki pada hidayah-Nya; pada akidah dan syariah-Nya. Karena itu, marilah kita mendakwahkan Islam walau dengan menyampaikan hanya satu-dua ayat atau satu-dua hadits. Sebab, Baginda Nabi SAW pernah bersabda (yang artinya), “Sampaikanlah dariku walau cuma satu ayat!” (HR al-Bukhari dan Muslim).

AL-AWWALUN : PARA SAHABAT PELOPOR KEBAIKAN

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

AL-AWWALUN : Para Sahabat Pelopor Kebaikan

 

“ Ya Allah ya Rabbi, jadikanlah Kami Hamba Yang Bisa Menjadi Pelopor Kebaikan Seperti Para Sahabat Rosulullah SAW”

Yang pertama kali masuk Islam dari golongan wanita dan laki-laki adalah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw, jika telah tiba waktu shalat maka beliau keluar menuju lembah-lembah di kota Makkah, dan Ali keluar menyertainya (padahal dia masih berumur sepuluh tahun) secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh ayah dan kaumnya. Lalu mereka berdua melakukan shalat bersama, dan jika waktu sore tiba mereka berdua kemudian pulang.

Yang pertama kali masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakar Shiddiq. Rasulullah saw bersabda: Tidaklah aku mengajak seseorang masuk Islam kecuali ia akan berwajah pucat mendengarnya, merasa ragu-ragu, dan berpikir panjang, kecuali Abu Bakar. Ia tidak menunda-nunda masuk Islam ketika aku menceritakan Islam kepadanya, dan juga tidak merasa ragu-ragu.

Orang yang pertama kali mengeraskan bacaan al-Qur’an di kota Makkah adalah Abdullah bin Mas’ud. Tatkala ia berada di depan para pemuka Quraisy, ia mengeraskan suaranya yang merdu dan membangkitkan minat pendengarnya, ketika membaca firman Allah Swt

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. (TQS. ar-Rahman [55]: 1-6)

Sampai pada bacaan tersebut, ia dipukuli oleh kaum kafir Quraisy hingga jatuh pingsan. Ketika siuman, ia meminta ijin pada Nabi saw untuk mengulangi lagi apa yang dilakukannya itu pada malam berikutnya.

Wanita yang pertama gugur menjadi syahidah dalam Islam adalah Sumayyah bin Khubbath (Ibu Ammar bin Yasir).

Khatib yang pertama kali menyerukan agama Allah adalah Abu Bakar as-Shiddiq, ketika jumlah kaum Muslim mencapai tiga puluh sembilan orang. Abu Bakar mendesak Rasulullah saw untuk menampakkan Islam secara terang-terangan, maka Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Bakar, jumlah kita masih sedikit”. Abu Bakar terus mendesak hingga akhirnya Rasulullah saw muncul dan kaum Muslim berpencar di beberapa sisi masjid. Abu Bakar kemudian berdiri menjadi khatib, sedang Rasulullah saw duduk mendengarkannya, sehingga Abu Bakar menjadi khatib pertama yang menyeru kepada Allah dan Rasulullah saw. Kaum musyrikin sangat marah kepada Abu Bakar dan kaum Muslim. Mereka memukulinya dengan sangat hebat. Abu Bakar diinjak-injak. Si fasik, Utbah bin Rabiah, mendekati beliau, kemudian ia memukulnya dengan dua sepatunya, yang meninggalkan bekas luka di wajah Abu Bakar sehingga sukar diketahui rupa hidung di wajahnya.

Pedang yang pertama kali dihunus dalam Islam, adalah pedang Zubair bin Awwam. Di masa-masa awal kemunculan Islam, tersiar kabar bahwa Rasululllah saw telah dibunuh. Yang dilakukan Zubair tidak lain kecuali segera menghunus pedangnya, kemudian dia mengitari jalanan Makkah bagaikan badai topan. Dan di daerah Makkah bagian atas dia bertemu dengan Rasulullah saw, yang segera menanyainya tentang apa yang terjadi? Zubair mengabarkan berita tersebut kepada Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw mendoakannya agar kebaikan diperuntukkan bagi dirinya dan kemenangan bagi pedangnya.

Rumah yang pertama kali digunakan untuk mengemban dakwah Islam adalah rumah Arqam bin Abi al-Arqam,yang berada di Bukit Shafa. Rumah itu seringkali digunakan Nabi Muhammad saw untuk duduk mengajarkan Islam. Rasulullah saw terus mengajarkan Islam di rumah Arqam hingga jumlah kaum Muslim mencapai empat puluh orang. Lalu mereka keluar menampakkan seruan kepada Allah.

Orang yang pertama kali berhijrah ke Habsyah; dialah Utsman bin Affan bersama isterinya Ruqayyah binti Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwasanya Utsman merupakan orang yang pertama kali berhijrah menyelamatkan agama Allah bersama keluarganya setelah Nabi Luth as.

Darah yang pertama kali tumpah dalam Islam. Di masa permulaan dakwah Islam, ketika itu Sa’ad bin Abi Waqash bersama beberapa orang sahabatnya sedang melaksanakan shalat di salah satu lembah di Makkah. Keberadaan mereka diketahui beberapa orang kaum musyrikin. Kaum musyrikin kemudian menentang dan mencela apa yang mereka lakukan, hingga akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka. Pada saat itu, Sa’ad memukul salah seorang kaum musyrikin dengan rahang unta sehingga orang itu terluka (dan mati terbunuh), dan itulah darah yang pertama kali tumpah dalam Islam.

Duta pertama dalam Islam, adalah Mush’ab bin Umair. Rasulullah saw memilihnya untuk menjadi duta beliau, yang dikirim ke Madinah dalam rangka memahamkan dan mengajarkan agama Islam kepada kaum Anshar, menyeru penduduk Yatsrib kepada Islam, dan mempersiapkan Madinah menyongsong terjadinya hijrah, padahal disisi beliau ada beberapa sahabat yang lebih tua umurnya dan lebih dekat hubungannya daripada Mush’ab. Mush’ab bin Umair ra mengemban amanat itu dengan dibantu oleh nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya berupa akal yang cerdas dan perilaku yang mulia. Ia berhasil menjalankan misinya, dimana penduduk Madinah masuk Islam dan menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya.

Yang pertama kali membangun masjid adalah Utsman bin Affan.

Yang pertama kali menjadikan rumahnya sebagai masjid yang digunakan untuk shalat adalah Ammar bin Yasir.

Orang Anshar yang pertama kali masuk Islam adalah As’ad bin Zurarah al-Anshari. As’ad bin Zurarah dan Dzakwan bin Abdi Qais berangkat ke Makkah. Di sana mereka berdua bertengkar dengan Utbah bin Rabiah. Mereka berdua mendengar kabar tentang Rasulullah saw dan mendatanginya, lalu Rasulullah saw menyampaikan Islam dan membacakan al-Qur’an dihadapan keduanya. Kemudian mereka berdua masuk Islam dan tidak mendekati Utbah bin Rabiah lagi. Keduanya lalu pulang ke Madinah, dan menjadi orang yang pertama kali pulang ke Madinah membawa Islam.

Orang yang pertama kali memegang tangan Rasulullah saw pada malam Bai’at al-’Aqabah kedua adalah al-Barra bin Ma’rur. Al-Barra memegang tangan Rasulullah saw dan berkata: “Ya, demi Zat yang mengutusmu menjadi seorang Nabi dengan membawa agama yang haq, kami akan melindungimu sebagaimana kami melindungi anak isteri kami. Bai’atlah kami wahai Rasulullah. Demi Allah, sesungguhnya kami adalah ahli perang, ahli senjata, yang selalu kami wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya”.

KUNCI ZUHUD

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

 

Kunci Zuhud

 

 

Di tengah-tengah kehidupan yang serba profan dan materialis kini, zuhud barangkali sudah menjadi kata yang asing dan aneh bagi kebanyakan orang, bahkan mungkin bagi sebagian pengemban dakwah. Bagi orang kaya yang biasa bergelimang harta dan kemewahan, hidup zuhud tentu terasa aneh. Bagi orang miskin, hidup zuhud (baca: miskin) tentu amat dibenci. Tentu demikian jika zuhud diidentikan dengan kefakiran atau kemiskinan.

Padahal zuhud tidaklah identik dengan hidup fakir atau miskin. “Zuhud itu bukan berarti miskin harta. Zuhud tidak lain mengosongkan kalbu dari (kecintaan) terhadap harta. Nabi Sulaiman as. sesungguhnya orang yang kaya harta dengan kebesaran kerajaannya, tetapi ia termasuk orang zuhud,” demikian kata Imam al-Ghazali (Al-Ghazali, Ihya ’Ulum ad-Din, I/29).

Karena itu, zuhud sebetulnya bisa menjadi pakaian sekaligus perhiasan setiap Muslim, baik yang kaya ataupun yang miskin. Muslim yang kaya bisa sekaligus menjadi orang zuhud saat ia tidak disibukkan oleh kekayaannya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Kekayaannya malah makin menambah ketaatan dirinya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ia makin rajin ibadah, makin giat berdakwah, makin bersemangat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT. Inilah yang ditunjukkan oleh generasi sahabat yang tergolong kaya seperti Abu Bakar ra., Umar bin al-Khaththab ra., Utsman bin Affan ra., Abdurrahman bin Auf ra., Mushab bin Umair ra., dll. Meski mereka kaya-raya, mereka tetaplah ahli ibadah dan giat berdakwah. Meski kaya-raya, mereka tidaklah disibukkan untuk terus menumpuk harta. Sebaliknya, mereka malah sibuk menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT. Pasalnya, bagi mereka, hidup kaya tidaklah menjadikan mereka bangga. Mereka bahkan amat khawatir dengan kekayaan mereka; khawatir jika Allah SWT telah menurunkan seluruh kenikmatan kepada mereka itu di dunia ini saja sehingga tak tersisa lagi kenikmatan untuk mereka di akhirat. Inilah yang menjadikan mereka ’takut’ dengan bertumpuknya harta sehingga dengan berbagai cara, mereka menghabiskan harta mereka di jalan Allah SWT.

Orang miskin pun bisa menjadi orang zuhud saat ia tidak ’disibukkan’ dengan kemiskinannya. Kemiskinan tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk taat beribadah dan giat berdakwah. Bahkan meski miskin, ia tetap berusaha untuk bersedekah; mungkin bukan dengan hartanya, tetapi dengan tenaganya, akal-pikirannya, atau sekadar dengan senyumnya kepada sesama.

Sebaliknya, orang kaya atau miskin bisa jadi sama-sama dihinggapi oleh penyakit hubb ad-dunya’ (kecintaan terhadap dunia)—sesuatu yang tentu berlawanan dengan sikap zuhud. Tentu buruk orang kaya yang mengidap penyakit hubb ad-dunya’ sehingga memalingkan dirinya dari ketaatan Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, lebih buruk lagi jika orang miskin mengidap penyakit yang sama. Sudahlah miskin di dunia, ia tak mau beribadah. Sudahlah hidup susah, ia malas berdakwah. Sayangnya, golongan yang terakhir ini pun banyak jumlahnya.

*****

Muslim yang zuhud tentu memiliki sejumlah tanda yang bisa dikenali. Imam al-Ghazali setidaknya menyebut 3 (tiga) tanda zuhud (‘alamat az-zuhd).Pertama: tidak bergembira atas harta yang dia miliki dan tidak bersedih hati atas harta yang tidak dia miliki atau yang hilang dari diri. Ini sebagaimana firman Allah SWT (yang artinya): …agar kalian tidak berduka atas apa yang hilang dari diri kalian dan tidak terlalu bergembira atas apa Allah berikan kepada kalian (TQS al-Hadid [57]: 23). Kedua: Sama saja bagi dirinya pujian dan celaan manusia (Pujian tidak membuat dirinya bergembira. Celaan tidak membuat dirinya duka-lara). Ketiga: Perhatian terbesarnya hanyalah Allah SWT. Ia senantiasa merasakan kelezatan dalam ketaatan kepada Allah SWT karena kalbunya memang tidak pernah kosong dari rasa cinta (mahabbah) kepada-Nya (Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, III/333).

Bagi seorang Muslim, termasuk pengemban dakwah sekalipun, memang tidaklah mudah menjadi orang zuhud di tengah kepungan atmosfir kehidupan yang materialistis dan godaan dunia yang makin hedonis saat ini. Namun demikian, Imam Hasan al-Bashri telah memberikan kepada kita ‘kunci zuhud’.

Pertama: Selalu yakin bahwa rezeki kita tak mungkin diambil orang lain sehingga hati kita selalu merasa tenang. Keyakinan seperti ini paling tidak akan melahirkan dua sikap: (1) Tawakal, tentu dibarengi dengan usaha mencari rezeki secara optimal; (2) Tidak tamak dan rakus terhadap harta, apalagi terlalu ambisius mengejar kekayaan hingga sering melalaikan kewajiban, misalnya kewajiban berdakwah.

Kedua: Selalu yakin bahwa amal kita tak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Keyakinan ini akan selalu menyibukkan diri kita untuk terus beramal tak kenal lelah, termasuk amal dakwah. Dengan itu tak mungkin, misalnya, kita berdakwah karena disuruh-suruh oleh orang lain; sementara jika tidak disuruh, kita tak berdakwah.

Ketiga: Selalu yakin bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi kita. Keyakinan ini akan menjadikan kita selalu hati-hati dan waspada dari segala perbuatan dosa. Bahkan kita malu untuk berbuat dosa meski dosa kecil sekalipun. Sebab, bagi seorang Muslim—sebagaimana dinyatakan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah al-‘Awliya’—masalahnya bukan kecilnya dosa, tetapi kepada siapa sesungguhnya ia berdosa. Tentu, dosa besar atau kecil, hakikatnya sama-sama merupakan maksiat kepada Allah SWT.

Keempat: Selalu yakin bahwa kematian adalah suatu kepastian. Keyakinan ini akan mendorong kita untuk terus mempersiapkan bekal demi menghadap kepada Allah SWT pada Hari Akhir nanti.

*****

Zuhud sekilas tampak sebagai perkara sepele. Namun jika kita renungkan, zuhud sebetulnya menyimpan energi positif yang luar biasa bagi seorang Muslim. Seorang Muslim yang zuhud, misalnya, akan senantiasa bersemangat dalam beribadah, antusias dalam bersedekah, dan giat dalam berdakwah. Sebab, urusan dunia bagi dirinya bukan lagi menjadi fokus utama. Fokus utamanya adalah urusan akhirat, juga urusan umat.

Sebaliknya, cinta dunia—sebagai lawan dari sikap zuhud—juga menyimpan energi luar biasa bagi seorang Muslim; tentu bukan energi positif, tetapi energi negatif: energi yang justru bisa mematikan hati (Lihat: Ibn ’Ajibah, Iqazh al-Himam Syarh Matan al-Hikam, I/63). Jika hati sudah mati, ibadah tak lagi terasa sedap; sedekah tak lagi terasa lezat; dakwah pun tak lagi terasa nikmat, malah mungkin terasa berat. Na’udzu bilLah min dzalik!

ZUHUD

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

 

Zuhud

Zuhud berasal dari zahida-yazhadu–zuhd[an] wa zahâdah. Bentuk pluralnya zuhâd. Menurut Ibn Darid, al-Jawhari, Ibn Manzhur, Abu al-Baqa’ al-Kafwami dan Zainuddin ar-Razi, secara bahasa artinya lawan dari menyukai (khilâf/dhiddu ar-raghbah).1 Menurut al-Jurjani, zuhud artinya meninggalkan kecenderungan pada sesuatu. Jika dikatakan zahada fî asy-syai’ menurut az-Zamakhsyari artinya berpaling darinya. Menurut al-Munawi, zuhud artinya minimnya kesukaan terhadap sesuatu atau tidak menyukainya. Murtadha az-Zabidi berkata, di dalam Al-Mishbâhartinya adalah meninggalkan sesuatu dan berpaling darinya. Di dalam Mu’jam al-Wasîth zuhud artinya berpaling darinya dan meninggalkannya untuk meghinakannya atau menjauhinya atau meminimalkannya.2 Menurut al-Khalil ibn Ahmad, az-zuhdu digunakan dalam konteks agama saja, sedangkan az-zahâdah dalam segala hal.

Al-Quran menyatakan kata zuhud hanya satu kali dengan makna bahasanya itu, yaitu dalam QS Yusuf [12]: 20.

Al-Jurjani dan al-Munawi menyatakan, “Dalam istilah ahli hakikat, zuhud adalah membenci (yakni tidak menyukai) dunia dan berpaling darinya. Dikatakan, zuhud adalah meninggalkan kelegaan dunia demi mencari kelegaan akhirat. Juga dikatakan, zuhud adalah mengosongkan hatimu dari apa-apa yang kosong dari tanganmu.”

Murtadha az-Zabidi menyatakan, “Guru kami menukil dari beberapa imam: yang paling shawâbtentang zuhud adalah mengambil kecukupan minimal dari apa yang diyakini kehalalannya dan meninggalkan yang lebih dari itu karena Allah SWT.”

Menurut Dr. M. Rawas Qal’aji di dalam Mu’jam Lughah al-Fuqaha’, zuhud adalah meninggalkan apa yang ada di dunia demi mengharapkan pahala di sisi Allah; atau hendaknya seseorang lebih mengharap apa yang ada di sisi Allah dari apa yang ada di tangannya.3

Mula al-Qari mengartikan zuhud di dunia dengan: meninggalkan keinginan terhadap dunia danqanâ’ah dengan apa yang diberikan, tawaduk, tidak takabur dan tidak sombong. Hasilnya adalah meninggalkan pertemanan harta dan kemewahan.

Sikap zuhud di dunia itu disyariatkan. Namun, zuhud jangan sampai dipahami keliru.Pemahaman zuhud yang keliru dinilai turut berkontribusi terhadap kemunduran umat Islam, yaitu ketika zuhud dipahami sebagai sikap meninggalkan dunia dalam arti tidak mau terlibat dalam urusan duniawi, lebih memilih mengasingkan diri dan abai dengan pengaturan dan apa yang terjadi di masyarakat; atau dipahami sebagai sikap untuk meninggalkan atau menjauhi dunia dalam arti tidak perlu bekerja, berusaha atau berbuat demi urusan dunia. Akibatnya, kegiatan produktif dan inovatif pun lenyap. Akhirnya, kejumudan pun melanda masyarakat. Tentu zuhud keliru ini justru membahayakan masyarakat dan membuatnya mundur dan terpuruk.

Zuhud itu bukannya tidak mau makan makanan enak, makan daging, kue lezat, buah yang enak, atau tidak mau memakai pakaian baru, pakaian yang bagus, atau tidak berkendaraan dan tidak mau merasakan kemudahan duniawi lainnya. Allah sendiri menyukai hamba-Nya yang menampakkan atsar rezeki dan kenikmatan yang Dia berikan. Zuhud juga bukan menyia-nyiakan harta seperti dengan membiarkan harta rusak begitu saja, membuang ke sungai, membakarnya, atau membelanjakannnya secara tidak benar. Abu Dzar meriwayatkan dari Nabi saw.:

 

Zuhud di dunia itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud di dunia itu hendaknya apa yang ada ditanganmu tidak lebih engkau percayai (jadikan sandaran) dari apa yang ada di tangan Allah, dan hendaknya pahala musibah jika sedang menimpamu lebih engkau sukai daripada jika musibah itu tidak ditimpakan kepadamu (HR Ibn Majah dan Tirmidzi).

 

Dalam riwayat lain dinyatakan, “Zuhud di dunia itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan dengan menyia-nyiakan harta, tetapi hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih engkau jadikan sandaran daripada apa yang ada di tanganmu, dan hendaklah kondisimu sedang di timpa musibah dan ketika tidak ditimpa musibah adalah sama saja bagimu, dan hendaklah pujian orang yang memujimu dan yang mencelamu di dalam kebenaran adalah sama saja bagimu.” (HR al-Baihaqi).

Artinya, zuhud di dunia itu tercermin dalam tiga perkara4: Pertama, hendaknya seorang hamba lebih bersandar pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Ini tumbuh dari benar dan kuatnya keyakinan bahwa Allah menjamin rezeki hamba dan yang menjadi Penanggungnya. Dengan itu, ia tidak akan merasa berat hati melepaskan harta yang ada di tangannya. Dia tidak akan merasa sedih dan kehilangan dengan lepasnya harta dari tangannya. Harta dan dunia yang dia miliki baginya adalah sesuatu yang remeh dan kecil.

Dunia ini adalah perjalanan munuju Allah. Harta dan dunia tidak selayaknya menghambat perjalanan itu. Harta dan dunia itu adalah untuk memperbanyak bekal menemui Allah. Karena itu, selayaknya dunia hanya diambil untuk kepentingan diri sendiri seperti makan, minum, pakaian, kendaraan, kesenangan, dsb, dalam kadar sekadarnya saja; karena waspada agar tidak melenakan dan menyelewengkan dari tujuan. Karena itu, seorang zuhud akan sangat ringan bahkan dengan riang mengeluarkan harta di jalan kebaikan. Di sinilah para ulama menggambarkan ciri zuhud adalah ikhrâj (mengeluarkan), sedangkan ciri cinta dunia adalahimsâk (menahan). Karena itu, bagi orang zuhud akan sangat mudah, bahkan senang, menginfakkan harta yang banyak, separuh bahkan seluruh harta, dalam semua macam kebajikan, untuk kemajuan dakwah dan kemajuan Islam. Hal itu seperti yang dilakukan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf serta para Sahabat dan generasi umat dulu yang tidak lagi hitung-hitungan saat berinfak di jalan Islam. Imam Ahmad pernah ditanya tentang orang yang punya harta, apakah ia orang yang zuhud? Beliau menjawab, “Jika dia tidak gembira karena bertambahnya harta dan tidak bersedih karena berkurangnya, ia seorang yang zuhud.”

Di sinilah Syaikh Abul Harits at-Tamimi mengatakan, “Seorang yang zuhud itu hendaknya dia menempatkan harta dan dunia di tangannya bukan di hatinya dan hendaknya dia mampu seketika kapan saja melepaskan perhiasan, harta, kedudukan atau apapun di antara bentuk perhiasan dan kelezatan dunia itu. Jadi, hatinya tidak terikat dengan sesuatu dari dunia. Jika Anda mempunyai sesuatu yang berharga, maka belajarlah untuk melepaskannya seketika itu tanpa penyesalan, berat hati atau rasa rugi. Begitulah zuhud terhadap apa yang Anda miliki.”

Jadi, zuhud itu dengan meninggalkan atau meminimalkan menikmati harta dan bentuk perhiasan dunia yang dimiliki atau yang mungkin dan bisa dimiliki, serta lebih banyak menggunakannya untuk menuju Allah, mendapatkan pahala dan meraih ridhaNya.

Kedua: bagi seorang zuhud kondisi sedang ditimpa musibah atau tidak, baginya sama. Ia akan tetap bersyukur dan bersabar; bersyukur karena terhindar dari musibah atau mendapat pahala saat ditimpa musibah; bersabar untuk tetap bersyukur, tak terlena dengan kemudahan dan bersabar saat terkena musibah. Bahkan ia lebih suka musibah itu tetap ada selama ia mendapat pahala dan keridhaan Allah. Az-Zuhri berkata, “Zuhud adalah bila yang halal tidak menghalanginya bersyukur dan yang haram tidak mengalahkan kesabarannya.”

Abu Said berkata, maksudnya adalah “bersabar atas yang haram (tetap meninggalkannya) dan bersyukur atas apa yang halal, mengakui hak Allah dan menggunakan kenikmatan di dalam ketaatan.”

Ketiga: pujian dan celaan tidak mempengaruhinya untuk tetap berada di atas kebenaran.Artinya, ia telah bisa menjauhkan hasrat akan pujian, prestise, kebanggaan, dsb, dari hatinya.Dengan itu, ia tak akan lupa diri karena pujian ataupun tambah semangat karenanya. Ia pun tidak kendor karena celaan atau tambah giat untuk membuktikan diri. Akan tetapi, ia berbuat semata karena pahala dan ridha Allah, giat dan bersemangat karena mengharap pahala dan ridha yang lebih banyak.

Zuhud yang demikian akan berpengaruh besar pada kebaikan dan kemajuan masyarakat.Sikap zuhud inilah yang harus dimiliki oleh para aktivis dan pejuang Islam. Di tangan seperti merekalah insya Allah pertolongan akan diturunkan oleh Allah. Niscaya dengan itu mereka akan dicintai Allah dan dicintai manusia. Nabi saw. bersabda:

 

Zuhudlah di dunia niscaya Allah mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya manusia mencintaimu (HR Ibn Majah, al-Hakim dan al-Baihaqi).

ZUHUD: KUNCI AGAR DICINTAI ALLAH SWT DAN MANUSIA

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

 

Zuhud: Kunci Agar Dicintai Allah SWT dan Manusia

 

Al-Arba’un an-Nawawiyah, Hadis ke-31

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إذَا عَمِلْته أَحَبَّنِي اللهُ، وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّك اللهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّك النَّاسُ

Sahal bin Sad ra. berkata: Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi saw. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepada diriku perbuatan yang jika aku lakukan Allah mencintaiku, demikian pula manusia.” Rasul bersabda, “Zuhudlah di dunia, niscaya Allah mencintai dirimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia pun mencintai dirimu.” (HR Ibn Majah, Ibn Hiban, al-Hakim, ath-Thabarani, al-Baihaqi)

Hadis ini diriwayatkan dari jalur Khalid bin Amru al-Qurasyi, dari Sufyan ats-Tsauri dari Abu Hazim, dari Sahal bin Saad. Al-Hakim di dalam Al-Mustadrakmenilai hadis ini sahih. Namun, as-Sakhawi di dalam Maqâshid al-Hasanah dan ash-Shan’ani dalam Subul as-Salâm menyatakan bahwa “Khalid bin Amru al-Qurasyi disepakati untuk ditinggalkan (riwayatnya) dan dia dinisbatkan pada pemalsuan.” Namun, hadis ini juga diriwayatkan dengan jalur lain diantaranya oleh al-Baihaqi dari Abu Qatadah dan Muhammad bin Katsir dari Sufyan ats-Tsauri. Selain itu Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah juga meriwayatkan hadis serupa dari Mujahid dari Anas meski dalam hal ini diperselisihkan apakah Mujahid mendengar hadis ini dari Anas, selain hadisnya dianggap mursal.

Imam an-Nawawi meriwayatkan hadis tersebut dalam Al-Arba’ûn sebagai hadis ke-31. Ia mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dan yang lainnya dan hadis ini hasan.”

Al-‘Iraqi juga menilai hadis ini hasan.

Hadis ini mengandung dua wasiat Rasul saw. Pertama: zuhud di dunia dan itu menjadi kunci untuk meraih kecintaan Allah. Kedua: zuhud terhadap apa yang ada pada manusia dan itu menjad kunci untuk mendapatkan kecintaan manusia.

Secara bahasa menurut Ibn Duraid dalam Jumhurah al-Lughah, al-Jawharidalam Ash-Shihâh fi al-Lughah, Ibn Manzhur dalam Lisân al-‘Arab, Abu al-Baqa’ al-Kafwami dalam Kitâb Al-Kulliyât dan Zainuddin ar-Razi dalam Mukhtâr ash-Shihâh, zuhud artinya lawan dari menyukai (khilâf/dhiddu ar-raghbah). Menurut al-Jurjani, zuhud artinya meniggalkan kecenderungan pada sesuatu.Jika dikatakan zahada fî asy-syai’, menurut al-Munawi, artinya minimnya kesukaan terhadap sesuatu itu atau tidak menyukainya. Zuhud juga berarti sesuatu yang kecil yang tidak penting.

Dari semua itu secara bahasa zuhud di dunia artinya tidak atau minim suka pada dunia, tidak cenderung pada dunia dan menganggap dunia sebagai sesuatu yang kecil dan tidak penting. Hasilnya adalah mengambil dunia sedikit saja dan tidak terpaut hati dengan dunia. Di situlah secara istilah Murtadha az-Zubaidi menyatakan, “Guru kami menukil dari beberapa imam: yang palingshawab tentang zuhud adalah mengambil kecukupan minimal dari apa yang diyakini kehalalannya dan meninggalkan yang lebih dari itu karena Allah SWT.”

Mula Ali al-Qari mengartikan zuhud di dunia adalah meninggalkan keinginan terhadap dunia dan qana’ah dengan apa yang diberikan, bersikap tawaduk, tidak takabur dan tidak sombong. Hasilnya adalah meninggalkan pertemanan dengan harta dan kemewahan.

Imam at-Tirmidzi dan Ibn Majah menuturkan dari Abu Idris al-Khaulani (dalam riwayat Ahmad dari Abu Muslim al-Khaulani), “Zuhud di dunia itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud di dunia itu hendaknya apa yang ada di tanganmu tidak lebih engkau percayai (jadikan sandaran) daripada apa yang ada di tangan Allah; hendaknya pahala musibah jika sedang menimpa dirimu lebih engkau sukai daripada jika musibah itu tidak ditimpakan kepada dirimu.”

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Yunus bin Maysarah yang mengatakan, “Zuhud di dunia itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud itu hendaknya apa yang ada di tangan Allah lebih engkau jadikan sandaran daripada apa yang ada di tanganmu; hendaklah kondisimu sedang ditimpa musibah dan ketika tidak ditimpa musibah adalah sama saja bagi dirimu; hendaklah pujian orang yang memuji dan yang mencela dirimu di dalam kebenaran adalah sama juga saja bagi dirimu.”

Jadi, zuhud itu bukan berarti mengasingkan diri meninggalkan dunia; bukan pula tidak mengambil dunia sama sekali atau mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Zuhud juga tidak identik dengan miskin. Orang kaya maupun miskin bisa menjadi zuhud. Sebab, zuhud adalah tidak terpautnya hati dengan dunia. Dunia tidak ada di dalam hati, tetapi ada di tangan yang kapan saja bisa dikeluarkan.

Bersikap zuhud di dunia artinya mengambil dunia untuk dinikmati sedikit (sekadarnya) saja. Ibarat seorang musafir, ia hanya mengambil dalam kadar yang mencukupi untuk bekal perjalanannya saja, tidak lebih. Itulah yang dipesankan oleh Rasul saw. kepada banyak sahabat. Salman ra. menuturkan:

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَهِدَ إِلَيْنَا عَهْداً فَتَرَكْنَا مَا عَهِدَ إِلَيْنَا أَنْ يَكُونَ بُلْغَةُ أَحَدِنَا مِنَ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ

Rasulullah saw. berwasiat kepada kami agar kecukupan salah seorang kami dari dunia ini seperti bekal seseorang yang melakukan perjalanan(HR Ahmad).

Bagi orang zuhud, dunia hanyalah laksana tempat singgah dalam perjalanannya menuju akhirat. Dia tidak akan tinggal di situ dan menjadikan dunia sebagai tujuan. Dia hanya sedikit atau sekedarnya saja dari hal-hal duniawi yang diambil untuk dia nikmati. Hal-hal duniawi yang Allah berikan kepada dirinya dia jadikan alat untuk menuju akhirat. Dia menggunakan semua itu untuk mempercepat dan memperbesar peluang agar mendekat ke negeri impian, yaitu surga di akhirat kelak. Karena itu, meski zuhud itu hakikatnya ada di hati, penampakannya bisa terlihat seperti ringan berinfak bahkan tidak hitung-hitungan, tidak cinta dunia, tidak mengejar dunia, mudah melepaskan hal duniawi untuk meraih akhirat dan terutama hidupnya berputar mengikuti poros Islam dan dakwah.

ZUHUD TERHADAP DUNIA

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

 

Zuhud Terhadap Dunia

 

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang menempuh perjalanan.” Ibn Umar berkata, “jika engkau ada di sore hari, jangan menunggu pagi dan jika berada di pagi hari, jangan menunggu sore. Manfaatkan masa sehatmu untuk masa sakitmu dan masa hidupmu untuk kematianmu.” (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

 

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis ini berturut-turut dari: Ali bin Abdullah, Muhammad bin Abdurrahman Abu al-Mundzir ath-Thafawi, Sulaiman al-A’masy, Mujahid dan Abdullah bin Umar, dari Rasulullah saw.

Ahmad meriwayatkannya berturut-turut dari: Waki, Sufyan, Laits bin Abi Salim, Abu Mu’awiyah dan Laits.

Ibn Majah meriwayatkannya dari Yahya bin Habib bin ‘Arabi, dari Hamad bin Zaid, dari Laits.

At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Mahmud bin Ghaylan, dari Abu Ahmad, dari Sufyan, dari Laits; lalu Laits bin Abi Salim, dari Mujahid, dari Abdullah bin Umar. Dalam riwayat Ahmad, Ibn Majah dan at-Tirmidzi sesudah lafal “‘âbir as-sabîl” terdapat tambahan: “wa ‘udda nafsaka fî ahli al-qubûr (hitunglah dirimu termasuk ahli kubur.”

Makna Hadis

Dalam hadis ini Rasul memberi perumpamaan bagaimana seharusnya kita memposisikan diri di dunia: seakan kita adalah orang asing dan seperti orang yang sedang menempuh perjalanan.

Ath-Thayyibi, sebagaimana dikutip oleh al-Hafizh Ibn Hajar di dalam Fath al-Bârî, menjelaskan, “Orang yang berjalan di dunia diserupakan dengan orang asing yang tidak memiliki tempat tinggal. Kemudian Beliau mengungkapkan perumpamaan yang lebih tinggi: diserupakan dengan orang yang sedang menempuh perjalanan. Sebab, orang asing kadang kala tinggal di negeri asing. Berbeda dengan orang yang menempuh perjalanan menuju negeri yang jauh;sepanjang perjalanan itu terdapat lembah-lembah yang membinasakan, gurun-gurun yang mencelakakan dan begal jalanan. Orang yang demikian tidak akan tinggal walaupun sejenak. Oleh karena itu, Ibn Umar langsung menimpali dengan kata-kata, “jika engkau ada di sore hari jangan menunggu pagi…”

Lalu sabda Rasul, “wa ‘udda nafsaka fî ahli al-qabûr, maknanya adalah, “Teruslah berjalan dan jangan engkau futur. Sesungguhnya jika engkau lemah atau lalai maka engkau akan terhenti di tengah jalan (tidak sampai tujuan) dan binasa di lembah-lembah itu.”

Imam an-Nawawi di dalam Syarh al-Arba’în an-Nawawiyah berkata, makna hadis ini adalah, “Janganlah engkau cenderung pada dunia dan menjadikan dunia sebagai tempat menetap. Jangan berbicara kepada dirimu sendiri bahwa engkau akan menetap di dunia serta jangan mempertautkan diri dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan menautkan diri dengan selain tanah airnya.”

Hadis ini merupakan isyarat untuk membangkitkan sikap zuhud di dunia dan mengambil bagian harta sekadar cukup untuk bekal (tidak berlebih). Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan perjalanannya, demikian pula seorang Mukmin di dunia; ia tidak akan membutuhkan lebih dari apa yang bisa mengantarkannya pada tujuan (akhirat). Hadis ini merupakan pokok dalam mendorong untuk mengambil jarak dengan dunia, bersikap zuhud di dalamnya, memandang remeh dunia dan bersikap qanâ’ah dengan bagian harta sekadar cukup untuk bekal hidup.

Hendaknya kita selalu mengingat pesan Nabi saw ini. Hendaknya setiap kita selalu merasa asing dengan dunia. Ia selalu ingat, bukan dunia ini tempat tinggal dia karena di dunia ini ia adalah orang asing. Ia tidak akan membiarkan hatinya terjerat oleh kecintaan pada tempat asing itu sehingga melupakan tanah air hakikinya. Hatinya tidak cenderung pada dunia. Ia tidak akan menikmati keintiman dengan dunia. Ia tidak akan bermesra-mesra dengan dunia. Hatinya tidak akan dia biarkan tertambat pada dunia sehingga merasa berat untuk menjauhi dan meninggalkannya. Sebaliknya, dunia baginya adalah sesuatu yang jauh lagi asing. Karena itu, hatinya ringan untuk melepas dunia itu dan tidak berat hati untuk meninggalkannya.

Hendaknya kita pun selalu ingat bahwa kita di dunia ini hanyalah ‘numpang lewat’. Fase kehidupan dunia ini hanyalah perjalanan untuk menuju ‘tanah air’ yang hakiki, yaitu akhirat.Sebagai orang yang sedang lewat saja, maka ia tidak akan berhenti berlama-lama, apalagi menetap. Ia pun tidak akan sibuk mengumpulkan harta dan perbekalan karena itu bisa memalingkannya dari perjalanan atau setidaknya menundanya. Selain itu, harta dan perbekalan yang terlalu banyak akan memberatkan dan menjadi beban di perjalanan yang bisa-bisa justru mencelakakannya. Sebaliknya, ia hanya mengambil harta dan perbekalan secukupnya saja, tidak berlebih. Itu pun dilakukan sambil terus berjalan. Sebagai orang yang sedang lewat, adalah tersesat jika ia justru menjadikan tempat singgah dan jalan yang ia lalui sebagai tujuan itu sendiri dan memalingkannya dari tempat tujuan yang hakiki.

Seorang Mukmin tidak selayaknya menjadi pecinta dunia, pemburu harta dan pencari kelezatan dunia. Sebaliknya. seorang Mukmin akan bersikap zuhud terhadap dunia dan qanâ’ah dengan karunia Allah yang ia terima. Dunia baginya adalah sesuatu yang asing dan tidak berharga. Ia jadikan dunia hanya sebagai jalan, wasilah dan sarana untuk mencapai tempat tujuan, yaitu akhirat. Akhiratlah yang selalu menjadi tambatan hatinya dan ujung angan-angannya. Wa mâ tawfîqi illâ billâh.

AKHLAK PARA SAHABAT : TAWADLU’

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

Akhlak Para Sahabat : Tawadlu’

Rasulullah saw bersabda:Sahabat-sahabatku itu bagaikan bintang-bintang. Dengan (sahabat-sahabat) manapun kalian mengarahkan (pandangan)-nya, maka (keberadaannya) menjadi petunjuk bagi kalian.

Tawadlu’

Telah sampai kepada Abu Ubaidah bin al-Jarrah cerita orang-orang di Syam tentang dirinya. Mereka terpesona terhadap gelar amirul umara (panglima besar) yang disandangnya. Ia mengumpulkan mereka dan berbicara di depan mereka: “Wahai manusia, sesungguhnya aku seorang muslim dari suku Quraisy. Siapa saja diantara kalian yang berkulit merah atau pun yang berkulit hitam, yang lebih bertakwa kepada Allah daripada aku, maka aku ingin sekali dibimbing olehnya”.

Ketika Amirul Mukminin Umar mengunjungi Syam, ia bertanya tentang saudaranya, mereka malah bertanya: “Siapa saudaramu itu?”. Ia menjawab: “Abu Ubaidah bin al-Jarrah”. Abu Ubaidah pun datang dan kemudian dirangkul Amirul Mukminin. Lalu Abu Ubaidah mengajaknya ke rumahnya. Di sana, Umar tidak mendapati perabotan apapun di dalam rumahnya kecuali pedang, perisai, dan pelana miliknya. Umar bertanya kepadanya sambil tersenyum: “Mengapa engkau tidak mengambil harta untuk kepentinganmu sendiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang?” Abu Ubaidah menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, ini semua sudah cukup menjadikan aku bisa istirahat dan tidur sejenak.”

AKHLAK PARA SAHABAT : ZUHUD

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

Akhlak Para Sahabat : Zuhud

Rasulullah saw bersabda:Sahabat-sahabatku itu bagaikan bintang-bintang. Dengan (sahabat-sahabat) manapun kalian mengarahkan (pandangan)-nya, maka (keberadaannya) menjadi petunjuk bagi kalian.

Zuhud

Dari Jundab bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: “Aku datang ke Madinah guna menimba ilmu, lalu aku masuk ke masjid Rasulullah saw. Maka di dalamnya orang-orang membentuk beberapa halqah guna membahas berbagai perkara. Aku kemudian mengikuti semua halqah itu, hingga tiba pada satu halqah yang di dalamnya ada seorang laki-laki yang kurus, ia memakai dua buah baju seakan-akan baru tiba dari satu perjalanan.

Aku mendengarnya berkata: “Celakalah mereka yang memiliki kekuasaan dan mempunyai kedudukan. Tiadalah obat yang bisa menolong mereka.” Aku mengira bahwa ia mengatakan hal itu berkali-kali. Aku duduk mendekatinya, ia menerangkan fatwanya, kemudian berdiri. Aku menanyakannya pada yang hadir setelah dia berdiri: “Siapa gerangan orang ini?” Mereka menjawab: “Inilah sayyidul muslimin (pemimpin kaum Muslim) Ubay bin Kaab“.

Lalu aku mengikutinya, hingga tiba dirumahnya. Ternyata rumahnya begitu usang, begitu pula dengan bentuknya. Ia seorang laki-laki zuhud yang tiada bandingannya, walaupun semua orang saling menggabungkan kezuhudannya untuk menandingi kezuhudannya.

Sa’id bin Amir, adalah orang yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan tugasnya, dan ia berhak mendapatkan gaji yang besar karenanya, tetapi ia hanya mengambil apa sekedarnya untuk mencukupi diri dan isterinya saja, membagikan sisanya kepada orang-orang fakir. Pernah dikatakan kepada dirinya: “Bagikanlah kelebihan harta ini secara berlimpah kepada keluarga dan kerabatmu”. Ia malah bertanya: “Kenapa harus pada keluarga dan kerabatku. Demi Allah tidak, aku tidak akan menjual ridla Allah dan menukarnya dengan kerabat.”

Ia juga pernah berkata kepada orang yang meminta-minta padanya: “Aku tidak ingin ketinggalan dari barisan terdepan, yang pertama kali akan masuk surga, setelah aku dengar Rasulullah saw bersabda: Allah mengumpulkan manusia untuk dihisab. Lalu datanglah orang-orang fakir dari kalangan kaum mukminin, mereka segera berkumpul sebagaimana merpati berkerumun, lalu dikatakan pada mereka: Berdirilah kalian untuk dihisab. Lalu mereka berkata: Kami tidak memiliki apapun yang bisa dihisab. Maka Allah berkata: Hamba-hambaku ini berkata benar. Lalu mereka masuk surga sebelum orang-orang lain masuk surga.”

Salman berkeinginan untuk membangun rumah, lalu ia bertanya pada tukang bangunan: “Bagaimana rupa rumah yang akan engkau bangun itu.” Tukang bangunan itu sangat cerdik dan ia mengetahui kezuhudan dan ke-wara’-an Salman, lalu ia menjawab: “Janganlah engkau khawatir, rumah ini hanya sebuah bangunan yang bisa engkau gunakan untuk bernaung dari terik panas matahari, yang bisa engkau tempati untuk melindungimu dari dinginnya malam hari. Jika engkau berdiri di dalamnya, kepalamu akan mencapai langit-langitnya, dan jika engkau berbaring, kakimu akan terantuk ke dindingnya.” Maka Salman berkata: “Ya, kalau seperti itu maka bangunlah rumah tersebut.”

Datang sebuah hadiah untuk Abdullah bin Umar dari salah seorang temannya yang datang dari Khurasan. Hadiah tersebut berupa pakaian yang sangat halus dan anggun. Sang teman berkata kepadanya: “Aku membawakan baju ini dari Khurasan untukmu, sungguh sangat menyenangkan hatiku jika melihatmu menanggalkan bajumu yang kasar itu, dan engkau kenakan baju yang bagus ini”. Ibnu Umar berkata padanya: “Perlihatkanlah baju itu padaku”. Kemudian ia merabanya, seraya berkata: “Apakah ini terbuat dari sutera?” Sang teman menjawab: “Bukan, baju ini terbuat dari katun.” Abdullah memakainya sebentar, kemudian mengembalikan baju itu dengan tangan kanannya seraya berkata: “Tidak, aku mengkhawatirkan diriku, aku takut baju ini membuat diriku menjadi seorang yang sombong dan angkuh, sedang Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi bermegah diri.”

Suatu hari, Abdullah bin Umar diberi hadiah oleh temannya sebuah bejana yang penuh berisi. Ibnu Umar bertanya: “Apakah ini?” Temannya menjawab: “Ini obat mujarab yang aku bawa untukmu dari Irak.” Ibnu Umar berkata: “Apa khasiat obat ini?” Temannya menjawab: “(Membantu) mencernakan makanan”. Ibnu Umar tersenyum dan berkata pada temannya: “Membantu mencernakan makanan? Sesungguhnya aku tidak pernah kenyang makan makanan selama empat puluh tahun”. Ibnu Umar ra takut, jika pada hari kiamat kelak dikatakan padanya: “Engkau telah menghabiskan segala yang lezat milikmu sepanjang hidupmu di dunia, dan hidup bersenang-senang dengannya”. Sebagaimana ia sering katakan pada dirinya: “Aku tidak membuat bangunan dengan dinding tembok, dan tidak menanam sebatang kurma pun sejak Rasulullah saw wafat”. Maimun bin Mahran berkata: “Aku memasuki rumah Ibnu Umar, lalu aku menaksir segala sesuatu yang ada di rumahnya, mulai dari tempat tidur, selimut dan periuk besar, dan semua perabotannya, aku tidak mendapati nilainya mencapai seratus dirham.”

MENGHIASI DIRI DENGAN AKHLAK MULIA

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

Menghiasi Diri Dengan Akhlak Mulia

Dalam realitas keseharian kita, kadangkala kita pernah menjumpai seorang Muslim yang mungkin dari sisi ritualitas ibadahnya bagus, namun hal demikian sering tidak tercermin dalam perilaku atau akhlaknya. Shalatnya rajin, tetapi sering tak peduli dengan tetangganya yang miskin. Shaum sunnahnya rajin, namun wajahnya jarang menampakkan sikap ramah kepada sesama. Zikirnya rajin, tetapi tak mau bergaul dengan masyarakat umum. Demikian seterusnya. Tentu saja, Muslim demikian bukanlah Muslim yang ideal.

Muslim yang ideal tentu adalah Muslim yang memiliki hubungan yang baik secara vertikal kepada Allah SWT yang terwujud dalam akidah dan ibadahnya yang lurus dan baik, sekaligus juga memiliki hubungan yang baik secara horisontal dengan sesama manusia yang tercermin dalam akhlaknya yang mulia.

Akhlak mulia (akhlaq al-karimah) adalah salah satu tanda kesempurnaan keimanan dan ketakwaan seorang Muslim. Karena itu, tentu tidak dikatakan sempurna keimanan dan ketakwaan seorang Muslim jika ia tidak memiliki akhlak mulia. Bahkan Baginda Rasulullah SAW menyebut keimanan yang paling sempurna dari seorang Muslim ditunjukkan oleh akhlaknya yang mulia, “Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya,” demikian sabda beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Karena itu, tidak aneh jika Baginda Rasulullah SAW pun menyebut Muslim yang berakhlak mulia sebagai manusia terbaik. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dalam sejumlah hadits lainnya, Baginda Rasulullah SAW menyebut sejumlah keistimewaan akhlak mulia ini. Saat beliau ditanya tentang apa itu kebajikan (al-birr), misalnya, beliau lansung menjawab, “Al-Birr husn al-khulq (Kebajikan itu adalah akhlak mulia.” (HR Muslim).

Beliau bahkan bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang Mukmin pada Hari Kiamat nanti selain akhlak mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berbuat keji dan berkata-keta keji.” (HR at-Tirmidzi).

Dalam kesempatan lain Baginda Rasulullah SAW pernah ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk surga. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak mulia.” (HR at-Tirmidzi).

Akhlak mulia tentu saja bagian dari ketakwaan itu sendiri. Namun demikian, akhlak mulia disebut secara khusus dalam hadits di atas. Ini menunjukkan betapa istimewanya akhlak mulia. Ibn al-Qayyim berkata, “Penggabungan takwa dengan akhlak mulia karena takwa menunjukkan baiknya hubungan seseorang dengan Tuhannya, sementara akhlak mulia menunjukkan baiknya hubungan dirinya dengan orang lain.” (Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/68).

Sebaliknya, saat Baginda Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka. Beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR at-Tirmidzi).

Mengapa mulut? Sebab, dari mulut bisa meluncur kata-kata kekufuran, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain),namimah (mengadu-domba orang lain), memfitnah orang lain, membatalkan yang haq dan membenarkan yang batil, dll.

Keutamaan kedudukan orang yang berakhlak mulia juga disejajarkan dengan keutamaan kedudukan orang yang biasa memperbanyak ibadah shaum dan sering menunaikan shalat malam. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin-karena kebaikan akhlaknya-menyamai derajat orang yang biasa melakukan shaum dan menunaikan shalat malam.” (HR Abu Dawud).

Bahkan kedudukan orang yang berakhlak mulia pada Hari Kiamat nanti dekat dengan kedudukan Baginda Rasulullah saw., sebagaimana sabda beliau, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada Hari Kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya, orang yang aku benci dan paling jauh dari diriku adalah orang yang terlalu banyak bicara (yang tidak bermanfaat, pen.) dan sombong.” HR at-Tirmidzi).

Lalu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia atau husn al-khulq? Di dalam tafsirnya, Abdullah ibn al-Mubarak, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, menyebut husn al-khulq sebagai: selalu bermuka manis; biasa melakukan kebajikan, di antaranya dengan biasa memberikan nasihat kepada orang lain dengan kata-kata yang baik, ringan tangan (mudah membantu orang lain), dll; serta sanggup menahan diri dari sikap menyakiti orang lain baik lewat ucapan maupun tindakan.

Husn al-hulq sesungguhnya juga merupakan gabungan dari sikap suka memaafkan, biasa memerintahkan kebajikan dan berpaling dari orang-orang yang jahil/bodoh, sebagaimana firman Allah SWT: Berilah maaf, perintahkanlah kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh (TQS al-A’raf [7]: 199). (Muhammad ‘Alan, Dalil al-Falihin, III/72).

MEMELIHARA KEMULIAAN AKHLAK

Posted by nurhanisyam on April 10, 2013
Posted in: Uncategorized. Tinggalkan komentar

Memelihara Kemuliaan Akhlak

Akhlak mulia adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kemuliaan seseorang ada pada agamanya, kehormatannya ada pada akalnya dan keagungannya ada pada akhlaknya.” (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).

Bahkan membentuk dan menyempurnakan akhlak mulia adalah salah satu misi utama Rasulullah SAW diutus ke dunia. Rasulullah SAW sendiri yang menyatakan demikian, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Hurairah ra, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, wajar jika akhlak mulia adalah salah satu yang disukai Allah SWT. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah perkara yang dibenci Allah SWT. Dalam hal ini, Amir bin Said bin Abi Waqash ra dari bapaknya berkata, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahamulia yang menyukai kemuliaan; Allah itu Mahamurah yang mencintai kemurahan dan kemuliaan akhlak serta membenci keburukan akhlak.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Inilah pula yang menjadi alasan Rasulullah SAW selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar menunjukkan kepada beliau akhlak mulia. Demikianlah sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib ra. bahwa Rasulullah saw. pernah memohon dalam salah satu doanya, “Ya Allah, tunjukilah aku pada akhlak yang paling mulia, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menunjuki aku pada akhlak yang paling mulia kecuali Engkau, dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, dan tidak ada yang bisa menghindarkan aku dari akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR Ahmad).

Akhlak mulia adalah salah satu amalan atau sifat orang Mukmin yang bakal menjadi penduduk surga. Demikianlah menurut sabda Rasulullah SAW, sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik ra. “Sesungguhnya kemuliaan akhlak adalah bagian dari amalan penduduk surga.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Rasulullah SAW memberi kita contoh di antara akhlak mulia yang harus kita miliki sebagaimana yang beliau ajarkan kepada Uqbah bin Amir ra, “Wahai Uqbah, maukah engkau aku beritahu akhlak yang paling mulia dari penduduk dunia dan akhirat? Yaitu engkau menyambungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya; engkau memberi kepada orang yang tak pernah memberi kepadamu; dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimi kamu.” (HR Al-Hakim dan ath-Thabrani).

Perbuatan akhlak di atas bahkan dengan kualitas keimanan seorang Muslim. Beliau bersabda sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Tidaklah seorang hamba dapat meraih keimanan yang benar hingga ia menyambungkan hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya, memaafkan orang yang menzalimi dirinya, mengampuni orang yang mencelanya dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada dirinya.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Wajarlah jika perbuatan akhlak di atas di atas dapat meringankan hisab Allah SWT atas manusia di akhirat kelak. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada tiga perkara yang siapapun memilikinya maka Allah akan menghisab dirinya dengan penghisaban yang mudah dan ringan serta memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya dengan rahma-Nya, yaitu: engkau memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepadamu; engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu; dan engkau menyambungkan hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya.” (HR Al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Namun demikian, pada akhirnya, akhlak mulia tetaplah merupakan buah dari ketakwaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Orang bertakwalah—tentu dengan akhlak mulianya—yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasullah SAW pernah ditanya, “Siapa manusia termulia.” Beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Hanya dengan takwa itulah manusia bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dituturkan oleh Ibn Abbas ra, “Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling mulia, hendaklah ia bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling kuat, hendaklah ia bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling kaya, hendaklah ia lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah SWT lebih daripada apa yang ada pada dirinya sendiri.” (HR Al-Baihaqi).

Maka dari itu, wajar jika ketakwaan menjadi pilihan orang-orang yang cerdas dan mulia. Dalam hal ini, Ibn Umar ra suatu ketika pernah mendatangi Rasulullah SAW Lalu datang seseorang dari kalangan Anshar kepada beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling cerdas dan paling mulia?” Beliau menjawab, “Dia yang paling banyak mengingat mati, paling keras usahanya dalam mempersiapkan bekal menghadapi kematian. Itulah orang yang paling cerdas. Mereka pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR Ibn Abu Dunya’). (Ibn Abi ad-Dunya’, Makarim al-Ikhlaq, Maktabah Syamilah).

Karena itu, mari kita senantiasa memelihara kemuliaan akhlak kita. Wa ma tawfiqi illa bilLah

Navigasi pos

← Older Entries
Newer Entries →
  • Tulisan Terakhir

    • H.PRABOWO SUBIANTO
    • H. PRABOWO SUBIANTO
    • H. PRABOWO SUBIANTO
    • H.PRABOWO SUBIANTO
    • H. PRABOWO SUBIANTO
  • Komentar Terbaru

  • Arsip

    • Juli 2013
    • Mei 2013
    • April 2013
  • Kategori

    • Uncategorized
  • Meta

    • Buat akun
    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed Komentar
    • WordPress.com
Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
nurhanisyam
Blog di WordPress.com. Tema: Parament.
Privasi & Cookie: Situs ini menggunakan cookie. Dengan melanjutkan menggunakan situs web ini, Anda setuju dengan penggunaan mereka.
Untuk mengetahui lebih lanjut, termasuk cara mengontrol cookie, lihat di sini: Kebijakan Cookie
  • Berlangganan Langganan
    • nurhanisyam
    • Sudah punya akun WordPress.com? Login sekarang.
    • nurhanisyam
    • Berlangganan Langganan
    • Daftar
    • Masuk
    • Laporkan isi ini
    • Lihat situs dalam Pembaca
    • Kelola langganan
    • Ciutkan bilah ini
 

Memuat Komentar...
 

    Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
    Mulai